Semakin hari dunia maya
semakin diminati. Tak hanya di kalangan anak muda, kini kaum orang tua mulai
mencoba berbagai aplikasi media sosial. Berbagai berita dan informasi menjadi
mudah didapatkan. Tidak sama halnya dengan membaca koran yang harus
mengeluarkan biaya untuk membelinya.
Kini untuk mendapatkan
berita dan informasi sudah gratis dan cepat hanya dengan sekali klik. Sehingga
lambat laun dunia maya mulai merebut kehidupan dunia nyata.
Semakin hari komunikasi
semakin mudah, namun juga menjadi mengkhawatirkan. Sebab, komunikasi tatap muka
kini jarang dilakukan. Masyarakat lebih memilih mebuka layar handphone dan
banyak mengatakan sesuatu hal lewat gadgetnya.
Sehingga sebagian orang
memilih untuk membaca sekilas lalu menyebarkan tanpa melihat atau mencari fakta
dan data yang valid. Hal ini akan merugikan berbagai pihak jika penulis atau
penyebar informasi tidak hati hati.
Menganggap media sosial
sebagai ladang ekspresi, tak jarang banyak orang yang merasa bebas mengemukakan
pendapatnya.
Sehingga apapun yang ada
di pikirannya, langsung ia tuangkan tanpa dipikirkan kembali dengan matang. Berbicara
tanpa landasan akan membuat masalah semakin besar. Terkadang, ini lah yang
menjadi salah satu sumber dari permasalahan sosial di dunia maya maupun di
dunia nyata.
Kebebasan berpendapat
bukan berarti bebas berbicara. Namun, kita pun harus bertanggungjawab dan mempertimbangkan resiko yang akan kita hadapi
dari apa yang kita katakan. Serta menjaga apa yang kita katakan karena suatu
perkataan yang telah terlanjur diucapkan
tanpa dipikirkan dahulu dapat merugikan diri sendiri.
Misalnya, seseorang yang
mengutarakan pendapatnya dimedia sosial namun disalahartikan dan dianggap sebagai
ujaran kebencian. Sehingga untuk membatasinya, kini dibuat peraturan yang
mengatur dalam menggunakan media sosial. Dengan maksud untuk mengurangi permasalahan
sosial dan menjaga satu sama lain. Terlebih Indonesia yang mempunyai berbagai
suku dengan watak daerah yang berbeda-beda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar