Tentang Film

 Catatan Sebuah Kehidupan

Menonton Film | Berbicara seputar film  ataupun menonton film bagi saya itu adalah hal yang paling sering saya hindari, (paling membosankan). Disaat anak anak seumuran saya gila film (sangat menyenangi kegiatan menonton film), tetap saja tidak dapat membuat diriku untuk dapat menyenangi hal tersebut ......

Halo, nama saya April.. Mungkin dikenal dengan seseorang yang sulit untuk diajak asik. Ya, bagaimana tidak? Setiap diajak menonton film pasti jawabannya “Mangga”.

....

Sejak SMA saya berteman dengan orang orang yang hobinya menonton film. Yang kami lakukan disaat jam kosong, apalagi kalau bukan membuka laptop lalu menonton film. Film yang ditontonpun banyakmacamnya, ntah itu drama korea, film barat, anime, dan sebagainya.  Begitu pun saat selesai kerja kelompok atau sekedar ngumpul-ngumpul di rumah teman pasti “menonton film” adalah kegiatan yang tidak pernah tertinggal.

Tapi masalahnya setiap teman-teman saya asik menonton film, saya selalu tidak ikut menontonnya. Why ? Jujur saya memang kurang minat untuk menonton film seperti teman- teman yang lain. Terkadang saat yang lainnya fokus menonton film, saya pun fokus mengerjakan kegiatan yang lain.

Walau saya paksakan pun tetap saja aku tidak kuat untuk berlama-lama dan merasa cepat bosan saat menonton film. 

Tapi pernah suatu ketika ada mata pelajaran yang memberi tugas kelompok untuk meresensi suatu film. Ya mau tidak mau kita harus menonton filmnya dulu. Lalu saya menonton filmnya bersama teman kelompok. Ditengah tengah durasi film yang cukup panjang, saya nyeletuk “Mana ih gaada iklannya?”.. Teman sekelompok tertawa dan berkata, “Orang mah nonton film gamau ada iklan, inimah pengen ada iklan” .  Haha.. Dalam hati sih saya hanya bercanda karena saya sedikit bosan dan ingin ke toilet pada saat itu.

Akhirnya saya selesai menonton film itu dan dapat mengerjakan tugas yang diberikan guru. Tapi, dengan begitu bukan berarti saya “Baru” menonton film. Saya sesekali menonton film, namun kadang tidak sampai tamat atau ada bagian yang terlewat. Karena saat menonton film saya lebih suka yang ada di tayangkan di televisi, yang tidak perlu mendownload dulu, durasi yang tidak terlalu lama karena ada iklannya, hehe.

Dan berbeda dengan menonton di bioskop, kalau nonton di bioskop ya berarti kita sudah punya niat untuk menonton film itu sampai akhir karena dari awal kita sudah membeli tiket.

Kalau ditanya apakah pernah menonton film drama korea? Tentu pernah. Hal itu berawal karena saat di rumah, Ibu saya sangat menyukai film drama korea yang ditayangkan di televisi. Karena sering ditonton oleh Ibu, dan saya pun ingin menonton tayangan yang lain tapi tidak diperbolehkan karena Ibu sedang menonton film drama korea, akhirnya ikut menontonnya. Dan benar saja, hal ajaib pun terjadi. Saya jadi punya rasa “ketagihan” pada film drama korea. Yang mungkin ini juga dirasakan oleh orang lain yang “gila” film. Tapi setelah film drama korea yang ditayangkan di televisi tamat, saya berhenti untuk tidak mencari film drama korea lagi karena takut “ketagihan” lagi. Yang dimana pikiran saya pada saat itu menganggap hal itu terlalu menghabiskan waktu saja.

...

Saat menginjak bangku kuliah, ternyata saya kembali dikumpulkan dengan orang –orang yang menyenangi film. Jurusan yang kebetulan di ambil pun ternyata tidak jauh dari hal yang berbau “film”.

Awalnya saya tidak sempat berfikir dan tidak mencari tau banyak tentang jurusan yang saya lakoni saat ini. Saya hanya berdoa pada Allah, minta diberikan yang  terbaik dan mempasrahkan hasil usaha yang saya lakukan. Dan mungkin tangan yang dianggap asal-asalan memilih jurusan ini mengantarkan saya pada kehidupan yang terbaik, walau dipersatukan dengan sesuatu yang kurang saya senangi saat itu.

Disaat itulah saya kembali bertemu dengan orang orang gila film. Tapi walaupun begitu, saya masih dapat menerima kegilaan mereka pada film. Yang intinya tidak benci-benci amat  sama yang namanya film.

... 

Di kampus pun saya sempat mengikuti Komunitas Film. Di dalam nya pun saya disuruh untuk membuat sebuah film. Hal yang cukup menantang saat itu, orang yang jarang menonton film tiba-tiba ditugaskan membuat sebuah film.  Lucu memang, tapi seru.

Walau saya terlihat kurang menyukai film, tapi saya pernah punya pengalaman mengedit. Karena saat SMA, saya mengikuti Komunitas IT yang tidak jauh berurusan dengan dunia Komputer, Kamera, Editing, dan sebagainya.

Ketika ditugaskan membuat film di Komunitas Film, saya melihat bagaimana proses membuat film yang baik. Apa saja yang harus dipersiapkan. Pengambilan gambar yang baik. Dan masih banyak lagi sesuatu yang saya pelajari tentang perfilman. Dan dari situ pula saya merasakan bagaimana lelahnya membuat sebuah karya, film. Ada suka ada duka.

Begitupun saat di kelas, tidak jauh dari tugas “membuat film”. Akupun cukup tertarik dan melakoni hal ini dengan lapang dada karena saya pun ingin terus belajar.

Pada saat pembuatan film pun banyak pelajaran dan pengalaman yang di dapat. Ntah itu tentang kerjasama, kekompakan, mengelola waktu, mengatur emosi, dan lainnya.Yang ternyata ada kebanggaan tersendiri yang muncul saat menonton film yang  sudah dibuat bersama itu.

Dari situ saya termotivasi untuk dapat membuat sebuah karya short movie di lingkungan pesantren. Karena pada saat itu saya kuliah sambil tinggal di pondok pesantren.

...

Di pesantren, setiap ada suatu acara saya sering ditugaskan Ustadz untuk mengabadikan moment. Ntah itu mengambil gambar atau sekedar membuat brosur/pamflet. Saya bingung kenapa saya bisa sampai di titik ini dengan ditugaskan seolah-olah seperti anak media.

Tapi setelah saya ingat-ingat, Ustadz saya pernah meminta bantuan kepada santrinya siapa yang bisa mengedit foto. Lalu saya mengajukan diri untuk menolong Ustadz yang sedang butuh bantuan. Dan mungkin dari situlah hingga saya sering ditugaskan lagi.

Sehingga, akhirnya saya ditunjuk Ustadz untuk menjadi Tim Media pesantren. Yang dimana tiu merupakan peluang bagi saya untuk membuat film dakwah. Saya sempat menyelipkan “project” membuat karya Short movie dakwah pada program kerja pesantren. Saya ingin semua santri ikut masuk dan belajar tentang dunia perfilman dakwah bersama bantuan rekan-rekan yang sudah paham tentang perfilman. Namun rencana itu belum dapat diwujudkan karena beberapa hal kendala keadaan.

...

Tidak di kelas tidak di pesantren, ternyata orang yang minat terhadap sebuah film itu cukup tinggi. Ada orang yang ketika bosan tidak ada kerjaan dia memilih untuk menonton film, ada yang sedang putus cinta pun dia lampiaskan lewat menonton film, ada yang sambil menunggu waktu buka puasa pun dia habiskan untuk menonton film. Bahkan saya pun sempat terkejut ada orang yang mengaku dirinya sedang “Marathon” menonton film.  Ada pula yang mengaku menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton film dan istirahat hanya untuk ke toilet, sholat, makan.

...

Saat saya pergi ke pesantren salafi pun, tidak terlepas dari santri-santrinya yang suka menonton film. Mereka memanfaatkan laptop yang dipakai santri mahasiswa untuk menonton film. Karena di pesantren salafi tidak terlalu banyak santri yang kuliah, dan bagi santri yang tidak kuliah semua hape dikumpulkan. Adapun saat pembagian Hape setiap Jumat, pasti aja saja yang dipakai untuk menonton film. Atau setiap libur mengaji, pasti banyak santri yang menonton film bersama sama.

...

Kalau dilihat lihat memang jalan kehidupan seseorang itu ada lucu nya juga. Ada hal yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun, lalu terjadi kepada kita dan menjadi sebuah pembelajaran dan pengalaman tersendiri.

Hingga saya teringat potongan ayat “...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah: 216)

Bisa saja ketika kita punya rencana A, tetapi akhirnya berjalan ke B bisa jadi rencana B lah yang akan mengantarkan kita pada kebaikan.

...

Mungkin itu sekelumit kisah saya dengan kehidupan nyata yang tidak disangka. Saya menulis apa adanya, bukan karena ingin dipandang menjadi sosok pecinta film hingga berpura-pura menyukai sebuah film. Karena menurut saya, Tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain  untuk dikenal, karena menjadi diri sendiri itu lebih baik. Saya tegaskan bukannya saya benci menonton film, mungkin bisa saja lambat laun ada yang membolak balikan hati hingga saya menjadi pecinta film.

...





Nama  : Aprilia Nur Islami

NIM     : 1174020022

Kelas    : KPI 7A

Email   : aprilianur_i@yahoo.com


 

 

 

Meraih Impian menjadi Astronot | Film Iqro: My Universe

Tanggal rilis      11 Juli 2019 (Indonesia) Sutradara Iqbal Alfajri Produser Budiyati Abiyoga Tyas Abiyoga Penulis          Aisyah Ami...